Beberapa minggu yang lalu, aku di tugasin bikin akun di blogger sama guru. Aku aempet blang kalau aku sudah punya akun di blogger, tapi yang aku daftar pakai akun yahoo, buan gmail. Aku salah, harusnya daftar pakai gmail. Guru ngga' mau tau, pokoknya aku harus punya akun di blogger pakai gmail. Terpaksa aku bikin lagi. Nambah satu deh akunku. Awalnya berat banget, aku ngga' mau pindah-pindah akun atau punya banyak akun. Nanti malah di kira teroris. Hahaha...
Temen-temen yang awalnya belum punya mereka enjoy banget. Yaa, walau ada beberapa yang sudah punya, tapi mereka santai banget. Aku galau lagi, mau tutup akun yg ini terus mindahin semua data yang sudah aku tulis apa harus berbagi perhatian pada keduanya.
Keduanya jelas berbeda, akun baru vasilitasnya bener-bener enak karena langsung nyambung sama google. Sedangkan yang ini ngga' bisa nyambung ke google karena memang daftarnya ngga' pakai akunnya google. Ternyata setelah di coba daftar ulang, akhirnya bisa join di google dengan akun yahoo. Engga terlalu beda sih sama akun gmail. Mungkin ada beberapa fasilitas yang ngga' bisa di nikmati karena bukan asli akun google. Tapi sementara waktu aku coba nikmati dulu dan tetap nulis di blok ini juga. Karena bagaimanapun blog ini adalah awal dimana aku mempelajari dan mulai menuliskan tentang diriku lalu mempublikasikannya di depan umum. So, never gonna change my love for you Hahahaha :D
( Ini akun kedua ku : aisaputri35.blogspot.com --> unjungi juga yee.. ^^
Senin, 22 Oktober 2012
Jumat, 12 Oktober 2012
Hari ini, kamu lewat lagi.. ^^
Aku bercerita panjang lebar tentang ksmu pada sahabat-sahabatku. Mereka sangat tertarik mendengarnya. Mereka ingin melihat wajahmu, sampai-sampai mereka berkunjung ke rumahku.
Sepulang sekolah kami akan belajar kelompok di rumahku. Tepat sekali, hari ini adalah hari Jum'at kami pulang lebih cepat dari biasanya. Begitu sampai di rumah, kami langsung menata buku-buku di lantai, seperti karpet dari buku. Banyak dan berserakan.
Beberapa menit kami beradu agrumentasi tentang materi yang telah kami terima, konsentrasi kami buyar oleh suara orang yang berjalan. Tidak satu, dua, atau tiga.. tapi banyak. Suaranya seperti ini... Srek..Srekk.. Srekk!!
Salah seorang temanu mengatakan, "Waktunya orang pulang jum'atan!"
Teringat akan seseorang, segera aku menengok ke arah pintu yang memang dari tadi terbuka. Tarrraaaaaa ......!!!!
"Mas Alim!" kataku pelan sambil tersenyum lebar.
"yang mana mel??"
"iya yang mana???" tanya teman-temanku berebut.
Aku menengok ke arah teman-temanku dengan mata berbinar-binar, "yang pakai baju koko biru, sarung kotak-kotak putih dan peci putih."
Tanpa perintah, mereka langsung berlari keluar untuk melihat bagaimana wajah si pembawa kedamaian. Aku meneriaki mereka dari dalam, "jangan di panggil lo! Awas kalian!"
"benar, orangnya terlihat alim" kata salah seorang temanku.
"Ganteng lagi, mel."
"Hidungnya mancung. Pas.."
"pas apanya ??" sambungku
"pas sama wajahnya. hehehe"
"Tapi orangnya ngga tinggi-tinggi banget"
"iya sih, tapi segitu juga sudah bagus" kataku tak mau mengalah.
Setelah acara pengenalan yang sangat aneh itu, mereka tak henti-henti menggodaiku. Sesekali aku mengelak kemudian tersenyum lebar.
"Hah.... lega sekali hatiku! Melihatmu di tengah terik mentari cukup membuatku merasa sejuk. Kau memang si pembawa kedamaian. " ucapku dalam hati.
Ini kali pertama teman-temanku melihatmu. Pendapat mereka baik tentangmu. Pengagummu bertambah, tak hanya aku tapi juga teman-temanku, mas.
(*teruntuk kamu mas yang aku kagumi: Hatiku selalu berdetak kencang saat melihatmu lewat di depan rumahku atu saat ita bertemu di suatu tempat. ~ Mas Alim ~*)
Sepulang sekolah kami akan belajar kelompok di rumahku. Tepat sekali, hari ini adalah hari Jum'at kami pulang lebih cepat dari biasanya. Begitu sampai di rumah, kami langsung menata buku-buku di lantai, seperti karpet dari buku. Banyak dan berserakan.
Beberapa menit kami beradu agrumentasi tentang materi yang telah kami terima, konsentrasi kami buyar oleh suara orang yang berjalan. Tidak satu, dua, atau tiga.. tapi banyak. Suaranya seperti ini... Srek..Srekk.. Srekk!!
Salah seorang temanu mengatakan, "Waktunya orang pulang jum'atan!"
Teringat akan seseorang, segera aku menengok ke arah pintu yang memang dari tadi terbuka. Tarrraaaaaa ......!!!!
"Mas Alim!" kataku pelan sambil tersenyum lebar.
"yang mana mel??"
"iya yang mana???" tanya teman-temanku berebut.
Aku menengok ke arah teman-temanku dengan mata berbinar-binar, "yang pakai baju koko biru, sarung kotak-kotak putih dan peci putih."
Tanpa perintah, mereka langsung berlari keluar untuk melihat bagaimana wajah si pembawa kedamaian. Aku meneriaki mereka dari dalam, "jangan di panggil lo! Awas kalian!"
"benar, orangnya terlihat alim" kata salah seorang temanku.
"Ganteng lagi, mel."
"Hidungnya mancung. Pas.."
"pas apanya ??" sambungku
"pas sama wajahnya. hehehe"
"Tapi orangnya ngga tinggi-tinggi banget"
"iya sih, tapi segitu juga sudah bagus" kataku tak mau mengalah.
Setelah acara pengenalan yang sangat aneh itu, mereka tak henti-henti menggodaiku. Sesekali aku mengelak kemudian tersenyum lebar.
"Hah.... lega sekali hatiku! Melihatmu di tengah terik mentari cukup membuatku merasa sejuk. Kau memang si pembawa kedamaian. " ucapku dalam hati.
Ini kali pertama teman-temanku melihatmu. Pendapat mereka baik tentangmu. Pengagummu bertambah, tak hanya aku tapi juga teman-temanku, mas.
(*teruntuk kamu mas yang aku kagumi: Hatiku selalu berdetak kencang saat melihatmu lewat di depan rumahku atu saat ita bertemu di suatu tempat. ~ Mas Alim ~*)
Rabu, 03 Oktober 2012
Hitamku.. Aku rindu!
Aku betengah hati bersamamu!
Aku ingin si hitamku kembali!
Bagaimana kabarnya sekarang?
Apa power girl masih setia bersamanya?
Bagaimana dengan cerita-cerita yang aku titipkan padanya?
Apa ada orang lain yang membacanya?
atau sudah di buang bersih??
Hitamku.. Manisku... Power Girl..
Aku RINDU!
Aku ingin baca buku cerita yang aku titipkan padanya
Aku ingin bersama denganya SELALU!
(Untuk: si Hitam dan Power Girl yang dahulu setia bersamku. Aku mencintaimu:*)
Aku ingin si hitamku kembali!
Bagaimana kabarnya sekarang?
Apa power girl masih setia bersamanya?
Bagaimana dengan cerita-cerita yang aku titipkan padanya?
Apa ada orang lain yang membacanya?
atau sudah di buang bersih??
Hitamku.. Manisku... Power Girl..
Aku RINDU!
Aku ingin baca buku cerita yang aku titipkan padanya
Aku ingin bersama denganya SELALU!
(Untuk: si Hitam dan Power Girl yang dahulu setia bersamku. Aku mencintaimu:*)
I stopped !!
Kali ini aku benar-benar melihatmu bersama dia
Tertawa bersama.
Menyakitkan rasanya
Persepsiku tentang kepribadianmu yang alim berubah
Hari ini aku melihatmu berbeda
Mungkin karena waktu yang membuatku lupa bagaimana dirimu
atau memang waktu yang membuatmu berubah sejauh ini
Baiklah! Aku menyerah!
Jujur saja aku tak suka ddenagan dirimu yang baru saja aku temui
Dan janji itu... Anggap saja tak pernah kau buat!
Aku tak kan menunggu!!
Tertawa bersama.
Menyakitkan rasanya
Persepsiku tentang kepribadianmu yang alim berubah
Hari ini aku melihatmu berbeda
Mungkin karena waktu yang membuatku lupa bagaimana dirimu
atau memang waktu yang membuatmu berubah sejauh ini
Baiklah! Aku menyerah!
Jujur saja aku tak suka ddenagan dirimu yang baru saja aku temui
Dan janji itu... Anggap saja tak pernah kau buat!
Aku tak kan menunggu!!
Rabu, 15 Agustus 2012
Ibu... maafkan
Hari kedua tanpanya disisiku.
Masih sulit ku percaya dengan keadaan ini.
Semenjak kepergiannya malam itu
Aku masih bertanya-tanya apakah harus kugantikan dengan yang lain
atau aku harus bertahan dengan keadaan ini.
Rasa bersalah pada Ibu tak kunjung hilang.
Hatiku bertambah pilu ketika Ibu bilang "tidak apa-apa nak, ikhlaskan saja!"
Ibu.. kenapa Ibu begitu tenang menghadapinya?
Sementara aku masih merasa bersalah karenanya.
22bulan 15hari yang lalu Ibu membawakannya untukku.
Aku sempat menolak dan tak ingin menggunakannya.
Kemudian Ibu bercerita bagaimana Ibu mendapatkannya
barulah aku mau menggunakannya dan akan menjaganya.
Tapi sekrang aku menghilangkannya.
Karena kecerobohanku dan ketidakhati-hatianku, dia hilang.
Handphoneku berpindah tangan ke tangan orang yang tak bertanggung jawab.
Hadiah dari Ibu beberapa bulan yang lalu raib dibawa copet.
Kemudian Ibu berjanji akan menggantinya dengan yang baru.
Oh Ibu.. Haruskah kau yang menggantinya?
Maafkan aku tidak benar-benar menjaga amanahmu.
Masih sulit ku percaya dengan keadaan ini.
Semenjak kepergiannya malam itu
Aku masih bertanya-tanya apakah harus kugantikan dengan yang lain
atau aku harus bertahan dengan keadaan ini.
Rasa bersalah pada Ibu tak kunjung hilang.
Hatiku bertambah pilu ketika Ibu bilang "tidak apa-apa nak, ikhlaskan saja!"
Ibu.. kenapa Ibu begitu tenang menghadapinya?
Sementara aku masih merasa bersalah karenanya.
22bulan 15hari yang lalu Ibu membawakannya untukku.
Aku sempat menolak dan tak ingin menggunakannya.
Kemudian Ibu bercerita bagaimana Ibu mendapatkannya
barulah aku mau menggunakannya dan akan menjaganya.
Tapi sekrang aku menghilangkannya.
Karena kecerobohanku dan ketidakhati-hatianku, dia hilang.
Handphoneku berpindah tangan ke tangan orang yang tak bertanggung jawab.
Hadiah dari Ibu beberapa bulan yang lalu raib dibawa copet.
Kemudian Ibu berjanji akan menggantinya dengan yang baru.
Oh Ibu.. Haruskah kau yang menggantinya?
Maafkan aku tidak benar-benar menjaga amanahmu.
Senin, 06 Agustus 2012
Aku beruntung sekali:)
Ibu.. Kasihmu tersalurkan lewat tanganmu..
Ibu bekerja setiap hari, memasak , membersihkan rumah..
Tapi tangan ibu masih tetap halus, bahkan sangat lembut..
Aku selalu ingin di belai dg tangan itu..
Aku selalu ingin dipeluk dg tangan itu..
Ibu.. Betapa mulianya engkau..
Wanita terhebat yg pernah kutemui adalah engkau..
Tangan terhalus adalah tanganmu..
Wajah yg paling cantik adalah wajahmu..
Aku beruntung memiliki ibu seperti Ibuku :)
Ibu bekerja setiap hari, memasak , membersihkan rumah..
Tapi tangan ibu masih tetap halus, bahkan sangat lembut..
Aku selalu ingin di belai dg tangan itu..
Aku selalu ingin dipeluk dg tangan itu..
Ibu.. Betapa mulianya engkau..
Wanita terhebat yg pernah kutemui adalah engkau..
Tangan terhalus adalah tanganmu..
Wajah yg paling cantik adalah wajahmu..
Aku beruntung memiliki ibu seperti Ibuku :)
Jumat, 27 Juli 2012
Salah Kelas! #MALU!!
Hari ini kegiatan les english sudah mulai aktif. Aku tadi datang terlalu cepat 30'. Kelasnya sendiri di mulai jam 18.15, sedangkan aku datang jam 17.45. Sebagai murid baru aku engga mau dong ngasih image jelek tentang pribadiku, sekalipun harus ada yang di tutupi. Hihiihihi :D
Rasanya datang 30' lebih awal di kelas baru tuh engga enak banget! Bosen doang isinya! Untung tadi belum buka, jadi bisa sambil makan biar ngilangin bosennya, yaa.. Biarpun buka cuma pakai roti isi engga harus stop bilang Alhamdulillah dong? Bersyukur itu wajib, biar engga kufur nikmat!
Bicaranya kok kayak penceramah yaa ?? Hehehe...
Selesai makan aku buka buku harian sekolahku. Niatnya sih buat ngingetin ada pe-er apa besok. Engga lama satu orang datang. Dia masuk kelas yg isinya cuma aku dan bangku-bangku sambil senyum, tanpa di suruh dan tanya dia langsung duduk di sebelahku. Dia kelihatan jauh lebih muda dari aku.
Eh, setelah ditanya bener dugaanku! Dia masih 12 tahun. Namanya Tia. Duh.. Temen sekelas di les-an seusia anak smp. Terus datang lagi deh anak seusia Tia. Khawatir bakal jadi yang tertua di kelas, tapi tenang deh nanti pasti ada yg datang lg. Fiuh... Relax.....
Lama nunggu, dan akhirnya mentor yg datang, pupus deh harapan buat engga jadi yg tertua di kelas. Bayangkan tiga orang siswa ditambah seorang mentor berbadan besar. Feeling rada engga enak, soalnya sekelas sama anak kecil-kecil. Baru lulus esde.
Waktu mentor bagi paketnya satu per satu, perasaan makin engga enak. Pas paket sudah di tangan, aku buka deh tuh isi paket. TARRRRAAAAAA...... Isinya materi esde ke esempe. O.M.G !! Aku salah masuk kelas! Lebih spesifiknya salah pilih kelas!! Bodo! Bodo! Bodo! (mukul jidad)
Setengah jam, sejam berlalu. Materi yg aku dapat sama persis seperti waktu aku kelas enam esde dulu. Dengan dua orang rekan les yg masih unyu-unyu itu di bantu mentor cantik berbadan besar, aku belajar ulang deh materi beberapa tahun yg lalu. Rada sebel sih, tapi netralisir aja deh biar engga kelihatan bosen banget.
Satu setengah jam berlalu. Si mentor mengakhiri les. Waktunya pulang. Eitzz.. Mampir dulu deh ke meja kepala lembaga. Aku ngomong panjang lebar tentang keganjilanku di kelas baruku itu di depan keplem dan mentorku. Mentor nyaranin aku masuk ke kelas 2, bukan 1. Tapi keplem nyaranin aku boleh coba di kelas 2 sama 3, setelah tau metode pembelajaran dan materinya, nanti aku pilih yg lebih cocok buat aku. Oke setuju banget sama saran keplem. Masalah paket yaa harus beli lagi, engga mungkin tuker paket. Mau tuker sama siapa coba ?? Kalau ada jg mana boleh ??
Oke, masalah ini selesai. Besok dan lusa aku mulai masuk di dua kelas itu. Bismillah aja deh, masalah temen yg enak atau engga, that's noprob! Yg terpenting sekarang materinya! Inget sudah kelas 3, harus lebih bisa dong. Pokoknya lulus nanti nilainya harus lebih bagus kuadrat dari semester kemarin.
Amiin... Tapi masih ada satu yg ngeganjel. MALU. Itu!
Udah yaa, besok cerita lagi kalau sudah masuk di kelas 3. Bingung yaa, kenapa lompat ke-3 dulu baru ke-2 ?
Karena kelas 3 jadwal les hari kamis, sedangkan kelas 2 jadwalnya hari sabtu.
Terserah deh paham apa engga, yg penting gitu ceritanya.
Hahaha.. Maksa banget yaa :D
Sudah yaa, mau isya'an dulu, tadi belum.
Byee.....:*
Rasanya datang 30' lebih awal di kelas baru tuh engga enak banget! Bosen doang isinya! Untung tadi belum buka, jadi bisa sambil makan biar ngilangin bosennya, yaa.. Biarpun buka cuma pakai roti isi engga harus stop bilang Alhamdulillah dong? Bersyukur itu wajib, biar engga kufur nikmat!
Bicaranya kok kayak penceramah yaa ?? Hehehe...
Selesai makan aku buka buku harian sekolahku. Niatnya sih buat ngingetin ada pe-er apa besok. Engga lama satu orang datang. Dia masuk kelas yg isinya cuma aku dan bangku-bangku sambil senyum, tanpa di suruh dan tanya dia langsung duduk di sebelahku. Dia kelihatan jauh lebih muda dari aku.
Eh, setelah ditanya bener dugaanku! Dia masih 12 tahun. Namanya Tia. Duh.. Temen sekelas di les-an seusia anak smp. Terus datang lagi deh anak seusia Tia. Khawatir bakal jadi yang tertua di kelas, tapi tenang deh nanti pasti ada yg datang lg. Fiuh... Relax.....
Lama nunggu, dan akhirnya mentor yg datang, pupus deh harapan buat engga jadi yg tertua di kelas. Bayangkan tiga orang siswa ditambah seorang mentor berbadan besar. Feeling rada engga enak, soalnya sekelas sama anak kecil-kecil. Baru lulus esde.
Waktu mentor bagi paketnya satu per satu, perasaan makin engga enak. Pas paket sudah di tangan, aku buka deh tuh isi paket. TARRRRAAAAAA...... Isinya materi esde ke esempe. O.M.G !! Aku salah masuk kelas! Lebih spesifiknya salah pilih kelas!! Bodo! Bodo! Bodo! (mukul jidad)
Setengah jam, sejam berlalu. Materi yg aku dapat sama persis seperti waktu aku kelas enam esde dulu. Dengan dua orang rekan les yg masih unyu-unyu itu di bantu mentor cantik berbadan besar, aku belajar ulang deh materi beberapa tahun yg lalu. Rada sebel sih, tapi netralisir aja deh biar engga kelihatan bosen banget.
Satu setengah jam berlalu. Si mentor mengakhiri les. Waktunya pulang. Eitzz.. Mampir dulu deh ke meja kepala lembaga. Aku ngomong panjang lebar tentang keganjilanku di kelas baruku itu di depan keplem dan mentorku. Mentor nyaranin aku masuk ke kelas 2, bukan 1. Tapi keplem nyaranin aku boleh coba di kelas 2 sama 3, setelah tau metode pembelajaran dan materinya, nanti aku pilih yg lebih cocok buat aku. Oke setuju banget sama saran keplem. Masalah paket yaa harus beli lagi, engga mungkin tuker paket. Mau tuker sama siapa coba ?? Kalau ada jg mana boleh ??
Oke, masalah ini selesai. Besok dan lusa aku mulai masuk di dua kelas itu. Bismillah aja deh, masalah temen yg enak atau engga, that's noprob! Yg terpenting sekarang materinya! Inget sudah kelas 3, harus lebih bisa dong. Pokoknya lulus nanti nilainya harus lebih bagus kuadrat dari semester kemarin.
Amiin... Tapi masih ada satu yg ngeganjel. MALU. Itu!
Udah yaa, besok cerita lagi kalau sudah masuk di kelas 3. Bingung yaa, kenapa lompat ke-3 dulu baru ke-2 ?
Karena kelas 3 jadwal les hari kamis, sedangkan kelas 2 jadwalnya hari sabtu.
Terserah deh paham apa engga, yg penting gitu ceritanya.
Hahaha.. Maksa banget yaa :D
Sudah yaa, mau isya'an dulu, tadi belum.
Byee.....:*
be patient please..!!
Melihat semuanya dari sisi yg berbeda.
Hh.. Wahai Allah.. Berilah yg terbaik..
Aku tau rencana-MU selalu indah..
Aku selalu menunggu
..
Hh.. Wahai Allah.. Berilah yg terbaik..
Aku tau rencana-MU selalu indah..
Aku selalu menunggu
..
Senin, 02 Juli 2012
bait-bait persahabatan..
" Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan setiap lagu di hatimu dan akan menyanyikannya kepadamu tatkala kamu lupa akan bait-baitnya. "
- Agung P. Firmansyah -
- Agung P. Firmansyah -
Jumat, 22 Juni 2012
Batal jadi juara .____.
Hari ini pengambilan raport di sekolah. Semua orang tua siswa hadir, tapi Ibu tidak, tante yg mewakilinya. But it's okay, i can understand.
Dari luar terdengar suara Bu Diyah sedang membacakan tiga siswa yang masuk kedalam peringkat tiga besar di kelas. Wow.. namaku yang disebut pertama kali oleh wali kelasku itu. Alhamdulillah.. aku kembali menduduki peringkat satu semester ini. rkriiSedikit ragu dalam hatiku, "benarkah ini?" karena aku merasa mood belajarku sedang menurun saat hari ujian lalu. Baiklah inilah hasilnya, aku mendapat bantuan dari yang Maha Adil dan Bijaksana. Aku mensyukuri itu.
Tante keluar dengan senyum mengembang lalu menyelamatiku. Teman-temanku yang melihatnya jadi ikutan menyelamatiku. Aku bersyukur sekali Ya Allah, nikmat-Mu begitu indah:)
Begitu sampai di rumah, ternyata ibu belum pulang. akhirnya kau putuskan untuk menelpon ke ponsel ibu, tapi tidak di angkat. Aku coba lagi, tidak di angkat lagi. Aku tidak putus asa untuk membagi kabar baik ini pada ibu. Akhirnya aku putuskan untuk mengirim pesan saja. kalau tidak sempat membukanya sekarang, toh nanti juga bisa dibaca. Dengan segera tanganku mengetik keypad ponselku dan megirimnya ke nomor ponsel ibu. Terkirim.
Belum ada balasan dari ibu, aku hitung saja nilaiku untuk memastikan. Belum selesai aku menjumlah seluruh nilaiku, ponselku berbunyi. 1 pesan dari Ibu. Aku segera membuka dan membacanya. "Alhamdulillah.. Ibu yakin mbak Lia bisa pertahankan prestasinya. Selamat ya nak!" Aku yang membacanya merasa sangat senang. Satu hadiah kecil untuk ibu. Aku teruskan kegiatan menjumlahku yang sempat terhenti tadi. Aku terkejut sekali, hasil raportku hanya naik tiga angka dari semester lalu. Ini minim sekali. Bagaimana mungkin nilai tertinggi di kelasku cuma segini? Aku hitung lagi untuk memastikan kebenarannya. Hasilnya sama. Aku heran kenapa kelasku yang sebelumnya mendapatkan anugerah kelas terbaik memiliki nilai tertinggi yang tidak optimal?!
Aku semakin heran ketika mengetahui nilai teman-teman terdekatku. Tidak terlalu jauh selisihnya dengan nilaiku. Harusnya kelasku bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi lagi. Aku kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang nilai teman satu kelasku. Ternyata ada seorang temanku yang mendapatkan nilai yang lebih tinggi 2 angka dari nilaiku. 2 angka di atasku dan beberapa angka diatas teman-temanku, itu artinya dia juaranya. "Astaghfirullah.. Bu Diyah pasti salah hitung, kenapa justru aku yang disebut pertama dan dia yang terakhir disebut?"
Setelah menegetahui ini, aku menghubungi wali kelasku dan menjelaskan semua kejanggalan. Alhamdulillah.. Wali kelasku memahami dan segera meralat keslahan ini. Dan jadilah aku mendapatkan peringkat ketiga, sedangkan temanku itu mendapatkan ratting pertama. Sempat kecewa tidak jadi menempati ratting satu, tapi nilaiku ini harus di syukuri. Ini sudah baik jika melihat semangat belajarku kemarin. Aku rasa ini sangat adil. Tapi bagaimana aku menceritakan ini pada ibu? Ibu pasti kecewa padaku. Apapun itu, aku harus menyampaikannya. Semoga ibu tidak terlalu kecewa karena nilaiku mengalami peningkatan, walau sedikit.
Selepas maghrib, aku menceritakan hal ini pada ibu. Ibu diam saja, aku takut melihat wajah ibu. Aku tundukkan dalam-dalam mukaku ke dada. Hening. Baru kemudian terdengar ibu menghela nafas kuat-kuat. "juara itu engga selalu nomor satu, nak! yang penting kerja kerasnya. Sudah bagus kamu ada peningkatan, biar satu angka namanya juga meningkat, nak! Jadi engga perlu jadi nomor satu dulu kalau mau jadi juara. Toh ada juara 2,3 yang penting kerja keras dan pemahannya. Harus bersyukur, itu yang utama, ya!"
Aku angkat kepalaku, aku kini memperhatikan ibu. Aku melihat ada sebuah senyuman tulus mengembang diwajah teduhnya. Aku sandarkan kepalaku dipangkuan ibu. Aku sangat merasa bersalah karena kurang bersemangat dalam belajar. Aku malu pada diriku sendiri, pada ibu dan semuanya. Aku menangis dipangkuannya. Aku malu sekali. Dengan halus ibu mengangkat tubuhku untuk bangun. Ibu memperhatikanku sejenak kemudian memelukku hangat. Ibu memintaku untuk tenang dan lebih bersyukur. Aku tenang dalam pelukan ibu.
Ibu.. aku berjanji suatu hari nanti akan membawa pelangi di pankuanmu, ibu.
Dari luar terdengar suara Bu Diyah sedang membacakan tiga siswa yang masuk kedalam peringkat tiga besar di kelas. Wow.. namaku yang disebut pertama kali oleh wali kelasku itu. Alhamdulillah.. aku kembali menduduki peringkat satu semester ini. rkriiSedikit ragu dalam hatiku, "benarkah ini?" karena aku merasa mood belajarku sedang menurun saat hari ujian lalu. Baiklah inilah hasilnya, aku mendapat bantuan dari yang Maha Adil dan Bijaksana. Aku mensyukuri itu.
Tante keluar dengan senyum mengembang lalu menyelamatiku. Teman-temanku yang melihatnya jadi ikutan menyelamatiku. Aku bersyukur sekali Ya Allah, nikmat-Mu begitu indah:)
Begitu sampai di rumah, ternyata ibu belum pulang. akhirnya kau putuskan untuk menelpon ke ponsel ibu, tapi tidak di angkat. Aku coba lagi, tidak di angkat lagi. Aku tidak putus asa untuk membagi kabar baik ini pada ibu. Akhirnya aku putuskan untuk mengirim pesan saja. kalau tidak sempat membukanya sekarang, toh nanti juga bisa dibaca. Dengan segera tanganku mengetik keypad ponselku dan megirimnya ke nomor ponsel ibu. Terkirim.
Belum ada balasan dari ibu, aku hitung saja nilaiku untuk memastikan. Belum selesai aku menjumlah seluruh nilaiku, ponselku berbunyi. 1 pesan dari Ibu. Aku segera membuka dan membacanya. "Alhamdulillah.. Ibu yakin mbak Lia bisa pertahankan prestasinya. Selamat ya nak!" Aku yang membacanya merasa sangat senang. Satu hadiah kecil untuk ibu. Aku teruskan kegiatan menjumlahku yang sempat terhenti tadi. Aku terkejut sekali, hasil raportku hanya naik tiga angka dari semester lalu. Ini minim sekali. Bagaimana mungkin nilai tertinggi di kelasku cuma segini? Aku hitung lagi untuk memastikan kebenarannya. Hasilnya sama. Aku heran kenapa kelasku yang sebelumnya mendapatkan anugerah kelas terbaik memiliki nilai tertinggi yang tidak optimal?!
Aku semakin heran ketika mengetahui nilai teman-teman terdekatku. Tidak terlalu jauh selisihnya dengan nilaiku. Harusnya kelasku bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi lagi. Aku kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang nilai teman satu kelasku. Ternyata ada seorang temanku yang mendapatkan nilai yang lebih tinggi 2 angka dari nilaiku. 2 angka di atasku dan beberapa angka diatas teman-temanku, itu artinya dia juaranya. "Astaghfirullah.. Bu Diyah pasti salah hitung, kenapa justru aku yang disebut pertama dan dia yang terakhir disebut?"
Setelah menegetahui ini, aku menghubungi wali kelasku dan menjelaskan semua kejanggalan. Alhamdulillah.. Wali kelasku memahami dan segera meralat keslahan ini. Dan jadilah aku mendapatkan peringkat ketiga, sedangkan temanku itu mendapatkan ratting pertama. Sempat kecewa tidak jadi menempati ratting satu, tapi nilaiku ini harus di syukuri. Ini sudah baik jika melihat semangat belajarku kemarin. Aku rasa ini sangat adil. Tapi bagaimana aku menceritakan ini pada ibu? Ibu pasti kecewa padaku. Apapun itu, aku harus menyampaikannya. Semoga ibu tidak terlalu kecewa karena nilaiku mengalami peningkatan, walau sedikit.
Selepas maghrib, aku menceritakan hal ini pada ibu. Ibu diam saja, aku takut melihat wajah ibu. Aku tundukkan dalam-dalam mukaku ke dada. Hening. Baru kemudian terdengar ibu menghela nafas kuat-kuat. "juara itu engga selalu nomor satu, nak! yang penting kerja kerasnya. Sudah bagus kamu ada peningkatan, biar satu angka namanya juga meningkat, nak! Jadi engga perlu jadi nomor satu dulu kalau mau jadi juara. Toh ada juara 2,3 yang penting kerja keras dan pemahannya. Harus bersyukur, itu yang utama, ya!"
Aku angkat kepalaku, aku kini memperhatikan ibu. Aku melihat ada sebuah senyuman tulus mengembang diwajah teduhnya. Aku sandarkan kepalaku dipangkuan ibu. Aku sangat merasa bersalah karena kurang bersemangat dalam belajar. Aku malu pada diriku sendiri, pada ibu dan semuanya. Aku menangis dipangkuannya. Aku malu sekali. Dengan halus ibu mengangkat tubuhku untuk bangun. Ibu memperhatikanku sejenak kemudian memelukku hangat. Ibu memintaku untuk tenang dan lebih bersyukur. Aku tenang dalam pelukan ibu.
Ibu.. aku berjanji suatu hari nanti akan membawa pelangi di pankuanmu, ibu.
Senin, 21 Mei 2012
jalan keluar:)
Akhirnya kita temukan jalan keluarnya..
lega sekali..
selamat kita berhasil melaluinya:)
semoga kita bertemu saat diri kita sudah lebih baik tentunya:)
lega sekali..
selamat kita berhasil melaluinya:)
semoga kita bertemu saat diri kita sudah lebih baik tentunya:)
Sabtu, 11 Februari 2012
speachless..
Kita hanya diam,
Sementara waktu terus berjalan,
Semakin lama ia berjalan menjauh,
Namun kita tetap diam,
Sunyi..
Tak adakah yg ingin kau sampaikan ?
Atau ..
Kau menyembunyikannya ?
Mengapa tak jua bicara ??
Diamku bukan ku tak suka,
Aku hanya menunggu kau memulai,
Untuk berbicara,
Walau hanya satu kata saja..
Apa yg kau takutkan ?
Aku akan mendengarkannya,
Walau hanya kata "Hay" yg kau ucapkan,
Tapi kau tak pernah mengatakannya,
Dan aku hanya diam dan terus menunggu..
Sementara waktu terus berjalan,
Semakin lama ia berjalan menjauh,
Namun kita tetap diam,
Sunyi..
Tak adakah yg ingin kau sampaikan ?
Atau ..
Kau menyembunyikannya ?
Mengapa tak jua bicara ??
Diamku bukan ku tak suka,
Aku hanya menunggu kau memulai,
Untuk berbicara,
Walau hanya satu kata saja..
Apa yg kau takutkan ?
Aku akan mendengarkannya,
Walau hanya kata "Hay" yg kau ucapkan,
Tapi kau tak pernah mengatakannya,
Dan aku hanya diam dan terus menunggu..
be waiting...
Sudah banyak hari yg kita lalui bersama.
Tapi tak satu katapun terucap ttg perasaan..
Mungkin tak ada keberanian atau memang ia tak pernah ada..
Aku menunggu kamu mengatakannya..
Aku menunggu kamu mengejutkanku dg kalimat itu..
Aku masih menunggu..
Begitu katamu..
Ya Tuhan.. Apa yg terjadi pd hati kami ??
Tapi tak satu katapun terucap ttg perasaan..
Mungkin tak ada keberanian atau memang ia tak pernah ada..
Aku menunggu kamu mengatakannya..
Aku menunggu kamu mengejutkanku dg kalimat itu..
Aku masih menunggu..
Begitu katamu..
Ya Tuhan.. Apa yg terjadi pd hati kami ??
no understand
Kau tak tau..
Kau lucu dan menyebalkan !! Tapi kau juga dewasa dan menenangkan.
Jika aku diam , kau meramaikan. Atau bahkan kau ikut diam.
Jika aku bersorak, kau juga bersorak.
Kau seakan mengerti aku sepenuhnya.
Tidak.. Tidak.. Tidak sepenuhnya.
Ku rasa hanya sebagian besar saja.
Karena kau tak tau sedang apa aku sekarang? Sedang memikirkan apa ? Sedang merasakan apa ?
Kurasa kau tidak tau. Dan biarlah tetap begitu.
PR buat kamu ^^
Aku suka memberinya PR..
Yaa .. Pekerjaan rumah.Maksudnya bukan bersih-bersih rumah atau tugas seperti yg ibu/bapak guru beri kalau lg di sekolah ..
Aku sengaja bikin dia penasaran dan mencari tau artinya sendiri , xixixi..
Maaf yaa Ang.. Aku jailin kamu :D
Kan maksudnya juga baik kan ??
Biar kamu lebih mengerti tentang ragam bahasa yg luas :)
Selamat belajar Ang :)
Semoga kamu lebih bisa dari aku :)
(Untuk : my best Angga, sahabat yg tak pernah marah saat aku jahili..xixixi :D)
Aku, Ibu dan jerawatku
Aku selalu manja pada ibu. Aku selalu minta ini itu. Jika Ibu tak membelikannya untukku maka aku akan merajuk. Jadilah ibu membelikannya untukku. Begitulah aku dahulu. Mungkin sifat manjaku belum hilang hingga sekarang. Aku sudah menjadi seorang remaja kini. Tapi masih saja aku manja pada ibu. Aku masih ingin dibikinkan susu hangat oleh ibu. Terkadang aku ingin ibu menyuapiku. Dan aku masih sering meminta ini itu pada ibu. Oh.. Ibu maafkan aku.
Suatu waktu aku men galami tahap awal masa remaja. Aku mulai menstruasi. Dan satu per satu jerawat tinggal di wajah mulusku. Wajahku tak lagi bersih. Jerawat membuatku merasa malu. Tapi ibu memaklumi. Ibu berikan aku pengobatan tradisional. Dan berhasil. Jerawatku hilang. Wajahku kembali berseri. Tapi.. Setiap kali aku menstruasi, maka muncullah jerawat baru. Satu.. Dua.. Terkadang tiga buah gundukan kotoran itu tinggal di wajahku. Aku tak suka jerawat. Sakit. Merah. Bernana. Aku lihatkan wajahku pada ibu. Ibu terkejut. Mengapa jerawatku semakin banyak. Akhirnya ibu memberikan pengobatan tradisional yg dulu pernah ibu berikan dulu. Namun sekarang ibu lebih sering melakukan itu untuk mengobatiku. Dan wajahku jauh lebih baik dari kemarin. Sedikit-demi sedikit jerawatku mengecil dan hilang. Tinggal bekas-bekas jerawat yg mulai menghitam masih menempel di pipiku. Ibu baru menyadari kalau jerawatku selalu muncul setiap aku menstruasi. Ibu bilang, itu darah kotor yg ada dalam tubuhku. Berarti setiap bulan aku akan mendapatkan jerawat baru ?? Aku tidak mau bu !
Ibu tersenyum, "masih ada cara sayang"
Aku mengikuti saran ibu. Ibu mengajarkan aku hidup sehat. Aku lebih sering berolahraga setiap pagi. Aku memakan makanan 4sehat 5sempurna setiap hari. Dan ibu menyarankan agar aku membersihkan wajahku setiap hari. Ibu Benar. Aku merasa tubuhku sehat. Dan jerawat sudah dapat terkendali. Yg tadinya tumbuh 1, lalu menjadi 2 dan 3, sekarang hanya tinggal 1 yg tumbuh setiap bulannya. Aku rasa tak masalah jika hanya satu. Itu wajar. Seseorang yg sudah mengalami masa pubertas akan mendapatkan jerawatnya.
Tapi lama-lama, aku mulai risih dg jerawat yg tinggal 1 ini. Aku memencetnya, hingga aku dapatkan bekas hitam di pipiku. Aku bertanya pada ibu, bagaimana bisa aku mendapatkan bekas hitam ini. Dan ibu melarangku untuk memencet jerawatku. Karena itu akan menyebar di seluruh wajahku. Aku tak mau itu terjadi. Lalu aku menurut. Tapi tanganku tak bisa di kendalikan jika ada satu jerawat yg tumbuh di wajahku. Aku ingin ia cepat hilang dari wajahku. Benar ia hilang, tapi bekas hitam yg tinggal. Semakin lama, bekas hitam memnuhi pipiku. Ibu membawaku ke dokter kulit. Dokter menyarankan agar wajahku tak berinteraksi langsung dg sinar matahari. Dan dokter memberiku krim dan beberapa bungkus pil pahit yg tak ku suka. Ibu membantuku meminum obat dari dokter. Setelah obatnya habis, wajahku tak kunjung pulih. Semakin buruk. Ibu membawaku ke dokter yg sama. Ibu komplain pada dokter. Tapi wajah ibu terlihat tidak sedang marah, seperti konsumen yg sedang komplain pada produsen. Wajah ibu tetap tenang dan santun. Hebat. Ibuku pandai menyembunyikan marahnya.
Setelah berbicara cukup lama dg dokter itu. Ibu memutuskan untuk pulang dan tidak meneruskan pengobatan. Ibu terus mencari info tentang cara pengobatan jerawat dan menghilangkan bekas hitam di wajah. Lalu ibu menemukan artikel yg membahas tentang jerawat dan bekasnya di majalah kesehatan milik ibu. Ada sebuah produk, kali ini bukan krim atau pengobatan tradisional seperti yg ibu lakukan dulu. Ini pengobatan herbal. Nampaknya ibu tertarik. Seketika ibu menelpon coustemer care yg tertulis di kaki halaman. Lama berbicara. Sepertinya ibu sedang membuat janji untuk bertemu. Esoknya, sepulang sekolah ibu mengajakku ketempat praktek pengobatan herbal itu.
Disana kami bertemu Ibu Herlina. Ia pemilik dan penerus pengobatan herbal ini. Ibu ini sama cantik seperti Ibuku. Sama-sama mengenakan jilbab. Sepertinya usianya lebih tua daripada Ibuku. Aku melihatnya dari wajahnya, yg sudah tampak garis-garis halus di sekitar mata dan dahinya.
Aku menjalani pengobatan disana selama beberapa minggu. Dan Ibu benar lagi. Bekas hitam itu sedikit-demi sedikit mulai hilang. Dan wajahku kembali bersinar. Hingga sekarang aku masih menggunakan satu produk dari klinik pengobatan itu. Ibu menghadiahkan itu untukku sebagai tanda telah kembalinya kulit mulusku. Ibu memberiku sapu tangan berwarna merah jambu. Sapu tangan itu bukan sembarang sapu tangan. Sapu tangan itu mengandung bahan herbal dan jelas aman dan ramah lingkungan. Aku suka membersihkan wajahku dg sapu tangan pemberian ibu itu. Kata ibu walau sudah sembuh, harus tetap di jaga. Agar jerawat tak mampir lagi ke wajahku.
Aku senang mendengarnya. Ibu bersusah payah menyembuhkan jerawatku. Ibu tak peduli berapa banyak uang yg harus Ia keluarkan untuk mengembalikan kulit mulusku. Tapi ibu tak pernah membahayakan kulitku. Pengobatan yg ibu berikan dan yg ibu sarankan adalah aman. Herbal itu dari alam. Betapa baiknya Tuhan kita. Menyediakan alam yg sangat baik dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia.
Itu salah satu bukti aku masih sangat manja dan bergantung pada ibu. Dan cerita itu menunjukkan betapa besar cinta seorang Ibu pada anak gadisnya. Ibu selalu menginginkan yg terbaik untukku. Ibu membiarkan tubuhnya menggigil kedinginan karena membiarkan gadis kecilnya menggunakan dua selimut, agar ia tak kedinginginan.
Ibu rela membolak-balik setiap majalah kesehatan, ibu rela menghadap komputer berjam-jam, ibu rela menelpon setiap klinik kesehatan, hanya untuk mencari informasi dimana aku bisa mendapatkan pengobatan yg terbaik untuk wajahku. Ibu tak pernah memberikan tagihan padaku. Ibu sangat baik. Aku merasa aman bila ada ibu. Dan aku percaya bahwa IBU SELALU BENAR.
Ibuku terkasih - Ramiatik :*
Suatu waktu aku men galami tahap awal masa remaja. Aku mulai menstruasi. Dan satu per satu jerawat tinggal di wajah mulusku. Wajahku tak lagi bersih. Jerawat membuatku merasa malu. Tapi ibu memaklumi. Ibu berikan aku pengobatan tradisional. Dan berhasil. Jerawatku hilang. Wajahku kembali berseri. Tapi.. Setiap kali aku menstruasi, maka muncullah jerawat baru. Satu.. Dua.. Terkadang tiga buah gundukan kotoran itu tinggal di wajahku. Aku tak suka jerawat. Sakit. Merah. Bernana. Aku lihatkan wajahku pada ibu. Ibu terkejut. Mengapa jerawatku semakin banyak. Akhirnya ibu memberikan pengobatan tradisional yg dulu pernah ibu berikan dulu. Namun sekarang ibu lebih sering melakukan itu untuk mengobatiku. Dan wajahku jauh lebih baik dari kemarin. Sedikit-demi sedikit jerawatku mengecil dan hilang. Tinggal bekas-bekas jerawat yg mulai menghitam masih menempel di pipiku. Ibu baru menyadari kalau jerawatku selalu muncul setiap aku menstruasi. Ibu bilang, itu darah kotor yg ada dalam tubuhku. Berarti setiap bulan aku akan mendapatkan jerawat baru ?? Aku tidak mau bu !
Ibu tersenyum, "masih ada cara sayang"
Aku mengikuti saran ibu. Ibu mengajarkan aku hidup sehat. Aku lebih sering berolahraga setiap pagi. Aku memakan makanan 4sehat 5sempurna setiap hari. Dan ibu menyarankan agar aku membersihkan wajahku setiap hari. Ibu Benar. Aku merasa tubuhku sehat. Dan jerawat sudah dapat terkendali. Yg tadinya tumbuh 1, lalu menjadi 2 dan 3, sekarang hanya tinggal 1 yg tumbuh setiap bulannya. Aku rasa tak masalah jika hanya satu. Itu wajar. Seseorang yg sudah mengalami masa pubertas akan mendapatkan jerawatnya.
Tapi lama-lama, aku mulai risih dg jerawat yg tinggal 1 ini. Aku memencetnya, hingga aku dapatkan bekas hitam di pipiku. Aku bertanya pada ibu, bagaimana bisa aku mendapatkan bekas hitam ini. Dan ibu melarangku untuk memencet jerawatku. Karena itu akan menyebar di seluruh wajahku. Aku tak mau itu terjadi. Lalu aku menurut. Tapi tanganku tak bisa di kendalikan jika ada satu jerawat yg tumbuh di wajahku. Aku ingin ia cepat hilang dari wajahku. Benar ia hilang, tapi bekas hitam yg tinggal. Semakin lama, bekas hitam memnuhi pipiku. Ibu membawaku ke dokter kulit. Dokter menyarankan agar wajahku tak berinteraksi langsung dg sinar matahari. Dan dokter memberiku krim dan beberapa bungkus pil pahit yg tak ku suka. Ibu membantuku meminum obat dari dokter. Setelah obatnya habis, wajahku tak kunjung pulih. Semakin buruk. Ibu membawaku ke dokter yg sama. Ibu komplain pada dokter. Tapi wajah ibu terlihat tidak sedang marah, seperti konsumen yg sedang komplain pada produsen. Wajah ibu tetap tenang dan santun. Hebat. Ibuku pandai menyembunyikan marahnya.
Setelah berbicara cukup lama dg dokter itu. Ibu memutuskan untuk pulang dan tidak meneruskan pengobatan. Ibu terus mencari info tentang cara pengobatan jerawat dan menghilangkan bekas hitam di wajah. Lalu ibu menemukan artikel yg membahas tentang jerawat dan bekasnya di majalah kesehatan milik ibu. Ada sebuah produk, kali ini bukan krim atau pengobatan tradisional seperti yg ibu lakukan dulu. Ini pengobatan herbal. Nampaknya ibu tertarik. Seketika ibu menelpon coustemer care yg tertulis di kaki halaman. Lama berbicara. Sepertinya ibu sedang membuat janji untuk bertemu. Esoknya, sepulang sekolah ibu mengajakku ketempat praktek pengobatan herbal itu.
Disana kami bertemu Ibu Herlina. Ia pemilik dan penerus pengobatan herbal ini. Ibu ini sama cantik seperti Ibuku. Sama-sama mengenakan jilbab. Sepertinya usianya lebih tua daripada Ibuku. Aku melihatnya dari wajahnya, yg sudah tampak garis-garis halus di sekitar mata dan dahinya.
Aku menjalani pengobatan disana selama beberapa minggu. Dan Ibu benar lagi. Bekas hitam itu sedikit-demi sedikit mulai hilang. Dan wajahku kembali bersinar. Hingga sekarang aku masih menggunakan satu produk dari klinik pengobatan itu. Ibu menghadiahkan itu untukku sebagai tanda telah kembalinya kulit mulusku. Ibu memberiku sapu tangan berwarna merah jambu. Sapu tangan itu bukan sembarang sapu tangan. Sapu tangan itu mengandung bahan herbal dan jelas aman dan ramah lingkungan. Aku suka membersihkan wajahku dg sapu tangan pemberian ibu itu. Kata ibu walau sudah sembuh, harus tetap di jaga. Agar jerawat tak mampir lagi ke wajahku.
Aku senang mendengarnya. Ibu bersusah payah menyembuhkan jerawatku. Ibu tak peduli berapa banyak uang yg harus Ia keluarkan untuk mengembalikan kulit mulusku. Tapi ibu tak pernah membahayakan kulitku. Pengobatan yg ibu berikan dan yg ibu sarankan adalah aman. Herbal itu dari alam. Betapa baiknya Tuhan kita. Menyediakan alam yg sangat baik dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia.
Itu salah satu bukti aku masih sangat manja dan bergantung pada ibu. Dan cerita itu menunjukkan betapa besar cinta seorang Ibu pada anak gadisnya. Ibu selalu menginginkan yg terbaik untukku. Ibu membiarkan tubuhnya menggigil kedinginan karena membiarkan gadis kecilnya menggunakan dua selimut, agar ia tak kedinginginan.
Ibu rela membolak-balik setiap majalah kesehatan, ibu rela menghadap komputer berjam-jam, ibu rela menelpon setiap klinik kesehatan, hanya untuk mencari informasi dimana aku bisa mendapatkan pengobatan yg terbaik untuk wajahku. Ibu tak pernah memberikan tagihan padaku. Ibu sangat baik. Aku merasa aman bila ada ibu. Dan aku percaya bahwa IBU SELALU BENAR.
Ibuku terkasih - Ramiatik :*
Langganan:
Komentar (Atom)







