Dari luar terdengar suara Bu Diyah sedang membacakan tiga siswa yang masuk kedalam peringkat tiga besar di kelas. Wow.. namaku yang disebut pertama kali oleh wali kelasku itu. Alhamdulillah.. aku kembali menduduki peringkat satu semester ini. rkriiSedikit ragu dalam hatiku, "benarkah ini?" karena aku merasa mood belajarku sedang menurun saat hari ujian lalu. Baiklah inilah hasilnya, aku mendapat bantuan dari yang Maha Adil dan Bijaksana. Aku mensyukuri itu.
Tante keluar dengan senyum mengembang lalu menyelamatiku. Teman-temanku yang melihatnya jadi ikutan menyelamatiku. Aku bersyukur sekali Ya Allah, nikmat-Mu begitu indah:)
Begitu sampai di rumah, ternyata ibu belum pulang. akhirnya kau putuskan untuk menelpon ke ponsel ibu, tapi tidak di angkat. Aku coba lagi, tidak di angkat lagi. Aku tidak putus asa untuk membagi kabar baik ini pada ibu. Akhirnya aku putuskan untuk mengirim pesan saja. kalau tidak sempat membukanya sekarang, toh nanti juga bisa dibaca. Dengan segera tanganku mengetik keypad ponselku dan megirimnya ke nomor ponsel ibu. Terkirim.
Belum ada balasan dari ibu, aku hitung saja nilaiku untuk memastikan. Belum selesai aku menjumlah seluruh nilaiku, ponselku berbunyi. 1 pesan dari Ibu. Aku segera membuka dan membacanya. "Alhamdulillah.. Ibu yakin mbak Lia bisa pertahankan prestasinya. Selamat ya nak!" Aku yang membacanya merasa sangat senang. Satu hadiah kecil untuk ibu. Aku teruskan kegiatan menjumlahku yang sempat terhenti tadi. Aku terkejut sekali, hasil raportku hanya naik tiga angka dari semester lalu. Ini minim sekali. Bagaimana mungkin nilai tertinggi di kelasku cuma segini? Aku hitung lagi untuk memastikan kebenarannya. Hasilnya sama. Aku heran kenapa kelasku yang sebelumnya mendapatkan anugerah kelas terbaik memiliki nilai tertinggi yang tidak optimal?!
Aku semakin heran ketika mengetahui nilai teman-teman terdekatku. Tidak terlalu jauh selisihnya dengan nilaiku. Harusnya kelasku bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi lagi. Aku kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang nilai teman satu kelasku. Ternyata ada seorang temanku yang mendapatkan nilai yang lebih tinggi 2 angka dari nilaiku. 2 angka di atasku dan beberapa angka diatas teman-temanku, itu artinya dia juaranya. "Astaghfirullah.. Bu Diyah pasti salah hitung, kenapa justru aku yang disebut pertama dan dia yang terakhir disebut?"
Setelah menegetahui ini, aku menghubungi wali kelasku dan menjelaskan semua kejanggalan. Alhamdulillah.. Wali kelasku memahami dan segera meralat keslahan ini. Dan jadilah aku mendapatkan peringkat ketiga, sedangkan temanku itu mendapatkan ratting pertama. Sempat kecewa tidak jadi menempati ratting satu, tapi nilaiku ini harus di syukuri. Ini sudah baik jika melihat semangat belajarku kemarin. Aku rasa ini sangat adil. Tapi bagaimana aku menceritakan ini pada ibu? Ibu pasti kecewa padaku. Apapun itu, aku harus menyampaikannya. Semoga ibu tidak terlalu kecewa karena nilaiku mengalami peningkatan, walau sedikit.
Selepas maghrib, aku menceritakan hal ini pada ibu. Ibu diam saja, aku takut melihat wajah ibu. Aku tundukkan dalam-dalam mukaku ke dada. Hening. Baru kemudian terdengar ibu menghela nafas kuat-kuat. "juara itu engga selalu nomor satu, nak! yang penting kerja kerasnya. Sudah bagus kamu ada peningkatan, biar satu angka namanya juga meningkat, nak! Jadi engga perlu jadi nomor satu dulu kalau mau jadi juara. Toh ada juara 2,3 yang penting kerja keras dan pemahannya. Harus bersyukur, itu yang utama, ya!"
Aku angkat kepalaku, aku kini memperhatikan ibu. Aku melihat ada sebuah senyuman tulus mengembang diwajah teduhnya. Aku sandarkan kepalaku dipangkuan ibu. Aku sangat merasa bersalah karena kurang bersemangat dalam belajar. Aku malu pada diriku sendiri, pada ibu dan semuanya. Aku menangis dipangkuannya. Aku malu sekali. Dengan halus ibu mengangkat tubuhku untuk bangun. Ibu memperhatikanku sejenak kemudian memelukku hangat. Ibu memintaku untuk tenang dan lebih bersyukur. Aku tenang dalam pelukan ibu.
Ibu.. aku berjanji suatu hari nanti akan membawa pelangi di pankuanmu, ibu.