Kita hanya diam,
Sementara waktu terus berjalan,
Semakin lama ia berjalan menjauh,
Namun kita tetap diam,
Sunyi..
Tak adakah yg ingin kau sampaikan ?
Atau ..
Kau menyembunyikannya ?
Mengapa tak jua bicara ??
Diamku bukan ku tak suka,
Aku hanya menunggu kau memulai,
Untuk berbicara,
Walau hanya satu kata saja..
Apa yg kau takutkan ?
Aku akan mendengarkannya,
Walau hanya kata "Hay" yg kau ucapkan,
Tapi kau tak pernah mengatakannya,
Dan aku hanya diam dan terus menunggu..
Sabtu, 11 Februari 2012
be waiting...
Sudah banyak hari yg kita lalui bersama.
Tapi tak satu katapun terucap ttg perasaan..
Mungkin tak ada keberanian atau memang ia tak pernah ada..
Aku menunggu kamu mengatakannya..
Aku menunggu kamu mengejutkanku dg kalimat itu..
Aku masih menunggu..
Begitu katamu..
Ya Tuhan.. Apa yg terjadi pd hati kami ??
Tapi tak satu katapun terucap ttg perasaan..
Mungkin tak ada keberanian atau memang ia tak pernah ada..
Aku menunggu kamu mengatakannya..
Aku menunggu kamu mengejutkanku dg kalimat itu..
Aku masih menunggu..
Begitu katamu..
Ya Tuhan.. Apa yg terjadi pd hati kami ??
no understand
Kau tak tau..
Kau lucu dan menyebalkan !! Tapi kau juga dewasa dan menenangkan.
Jika aku diam , kau meramaikan. Atau bahkan kau ikut diam.
Jika aku bersorak, kau juga bersorak.
Kau seakan mengerti aku sepenuhnya.
Tidak.. Tidak.. Tidak sepenuhnya.
Ku rasa hanya sebagian besar saja.
Karena kau tak tau sedang apa aku sekarang? Sedang memikirkan apa ? Sedang merasakan apa ?
Kurasa kau tidak tau. Dan biarlah tetap begitu.
PR buat kamu ^^
Aku suka memberinya PR..
Yaa .. Pekerjaan rumah.Maksudnya bukan bersih-bersih rumah atau tugas seperti yg ibu/bapak guru beri kalau lg di sekolah ..
Aku sengaja bikin dia penasaran dan mencari tau artinya sendiri , xixixi..
Maaf yaa Ang.. Aku jailin kamu :D
Kan maksudnya juga baik kan ??
Biar kamu lebih mengerti tentang ragam bahasa yg luas :)
Selamat belajar Ang :)
Semoga kamu lebih bisa dari aku :)
(Untuk : my best Angga, sahabat yg tak pernah marah saat aku jahili..xixixi :D)
Aku, Ibu dan jerawatku
Aku selalu manja pada ibu. Aku selalu minta ini itu. Jika Ibu tak membelikannya untukku maka aku akan merajuk. Jadilah ibu membelikannya untukku. Begitulah aku dahulu. Mungkin sifat manjaku belum hilang hingga sekarang. Aku sudah menjadi seorang remaja kini. Tapi masih saja aku manja pada ibu. Aku masih ingin dibikinkan susu hangat oleh ibu. Terkadang aku ingin ibu menyuapiku. Dan aku masih sering meminta ini itu pada ibu. Oh.. Ibu maafkan aku.
Suatu waktu aku men galami tahap awal masa remaja. Aku mulai menstruasi. Dan satu per satu jerawat tinggal di wajah mulusku. Wajahku tak lagi bersih. Jerawat membuatku merasa malu. Tapi ibu memaklumi. Ibu berikan aku pengobatan tradisional. Dan berhasil. Jerawatku hilang. Wajahku kembali berseri. Tapi.. Setiap kali aku menstruasi, maka muncullah jerawat baru. Satu.. Dua.. Terkadang tiga buah gundukan kotoran itu tinggal di wajahku. Aku tak suka jerawat. Sakit. Merah. Bernana. Aku lihatkan wajahku pada ibu. Ibu terkejut. Mengapa jerawatku semakin banyak. Akhirnya ibu memberikan pengobatan tradisional yg dulu pernah ibu berikan dulu. Namun sekarang ibu lebih sering melakukan itu untuk mengobatiku. Dan wajahku jauh lebih baik dari kemarin. Sedikit-demi sedikit jerawatku mengecil dan hilang. Tinggal bekas-bekas jerawat yg mulai menghitam masih menempel di pipiku. Ibu baru menyadari kalau jerawatku selalu muncul setiap aku menstruasi. Ibu bilang, itu darah kotor yg ada dalam tubuhku. Berarti setiap bulan aku akan mendapatkan jerawat baru ?? Aku tidak mau bu !
Ibu tersenyum, "masih ada cara sayang"
Aku mengikuti saran ibu. Ibu mengajarkan aku hidup sehat. Aku lebih sering berolahraga setiap pagi. Aku memakan makanan 4sehat 5sempurna setiap hari. Dan ibu menyarankan agar aku membersihkan wajahku setiap hari. Ibu Benar. Aku merasa tubuhku sehat. Dan jerawat sudah dapat terkendali. Yg tadinya tumbuh 1, lalu menjadi 2 dan 3, sekarang hanya tinggal 1 yg tumbuh setiap bulannya. Aku rasa tak masalah jika hanya satu. Itu wajar. Seseorang yg sudah mengalami masa pubertas akan mendapatkan jerawatnya.
Tapi lama-lama, aku mulai risih dg jerawat yg tinggal 1 ini. Aku memencetnya, hingga aku dapatkan bekas hitam di pipiku. Aku bertanya pada ibu, bagaimana bisa aku mendapatkan bekas hitam ini. Dan ibu melarangku untuk memencet jerawatku. Karena itu akan menyebar di seluruh wajahku. Aku tak mau itu terjadi. Lalu aku menurut. Tapi tanganku tak bisa di kendalikan jika ada satu jerawat yg tumbuh di wajahku. Aku ingin ia cepat hilang dari wajahku. Benar ia hilang, tapi bekas hitam yg tinggal. Semakin lama, bekas hitam memnuhi pipiku. Ibu membawaku ke dokter kulit. Dokter menyarankan agar wajahku tak berinteraksi langsung dg sinar matahari. Dan dokter memberiku krim dan beberapa bungkus pil pahit yg tak ku suka. Ibu membantuku meminum obat dari dokter. Setelah obatnya habis, wajahku tak kunjung pulih. Semakin buruk. Ibu membawaku ke dokter yg sama. Ibu komplain pada dokter. Tapi wajah ibu terlihat tidak sedang marah, seperti konsumen yg sedang komplain pada produsen. Wajah ibu tetap tenang dan santun. Hebat. Ibuku pandai menyembunyikan marahnya.
Setelah berbicara cukup lama dg dokter itu. Ibu memutuskan untuk pulang dan tidak meneruskan pengobatan. Ibu terus mencari info tentang cara pengobatan jerawat dan menghilangkan bekas hitam di wajah. Lalu ibu menemukan artikel yg membahas tentang jerawat dan bekasnya di majalah kesehatan milik ibu. Ada sebuah produk, kali ini bukan krim atau pengobatan tradisional seperti yg ibu lakukan dulu. Ini pengobatan herbal. Nampaknya ibu tertarik. Seketika ibu menelpon coustemer care yg tertulis di kaki halaman. Lama berbicara. Sepertinya ibu sedang membuat janji untuk bertemu. Esoknya, sepulang sekolah ibu mengajakku ketempat praktek pengobatan herbal itu.
Disana kami bertemu Ibu Herlina. Ia pemilik dan penerus pengobatan herbal ini. Ibu ini sama cantik seperti Ibuku. Sama-sama mengenakan jilbab. Sepertinya usianya lebih tua daripada Ibuku. Aku melihatnya dari wajahnya, yg sudah tampak garis-garis halus di sekitar mata dan dahinya.
Aku menjalani pengobatan disana selama beberapa minggu. Dan Ibu benar lagi. Bekas hitam itu sedikit-demi sedikit mulai hilang. Dan wajahku kembali bersinar. Hingga sekarang aku masih menggunakan satu produk dari klinik pengobatan itu. Ibu menghadiahkan itu untukku sebagai tanda telah kembalinya kulit mulusku. Ibu memberiku sapu tangan berwarna merah jambu. Sapu tangan itu bukan sembarang sapu tangan. Sapu tangan itu mengandung bahan herbal dan jelas aman dan ramah lingkungan. Aku suka membersihkan wajahku dg sapu tangan pemberian ibu itu. Kata ibu walau sudah sembuh, harus tetap di jaga. Agar jerawat tak mampir lagi ke wajahku.
Aku senang mendengarnya. Ibu bersusah payah menyembuhkan jerawatku. Ibu tak peduli berapa banyak uang yg harus Ia keluarkan untuk mengembalikan kulit mulusku. Tapi ibu tak pernah membahayakan kulitku. Pengobatan yg ibu berikan dan yg ibu sarankan adalah aman. Herbal itu dari alam. Betapa baiknya Tuhan kita. Menyediakan alam yg sangat baik dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia.
Itu salah satu bukti aku masih sangat manja dan bergantung pada ibu. Dan cerita itu menunjukkan betapa besar cinta seorang Ibu pada anak gadisnya. Ibu selalu menginginkan yg terbaik untukku. Ibu membiarkan tubuhnya menggigil kedinginan karena membiarkan gadis kecilnya menggunakan dua selimut, agar ia tak kedinginginan.
Ibu rela membolak-balik setiap majalah kesehatan, ibu rela menghadap komputer berjam-jam, ibu rela menelpon setiap klinik kesehatan, hanya untuk mencari informasi dimana aku bisa mendapatkan pengobatan yg terbaik untuk wajahku. Ibu tak pernah memberikan tagihan padaku. Ibu sangat baik. Aku merasa aman bila ada ibu. Dan aku percaya bahwa IBU SELALU BENAR.
Ibuku terkasih - Ramiatik :*
Suatu waktu aku men galami tahap awal masa remaja. Aku mulai menstruasi. Dan satu per satu jerawat tinggal di wajah mulusku. Wajahku tak lagi bersih. Jerawat membuatku merasa malu. Tapi ibu memaklumi. Ibu berikan aku pengobatan tradisional. Dan berhasil. Jerawatku hilang. Wajahku kembali berseri. Tapi.. Setiap kali aku menstruasi, maka muncullah jerawat baru. Satu.. Dua.. Terkadang tiga buah gundukan kotoran itu tinggal di wajahku. Aku tak suka jerawat. Sakit. Merah. Bernana. Aku lihatkan wajahku pada ibu. Ibu terkejut. Mengapa jerawatku semakin banyak. Akhirnya ibu memberikan pengobatan tradisional yg dulu pernah ibu berikan dulu. Namun sekarang ibu lebih sering melakukan itu untuk mengobatiku. Dan wajahku jauh lebih baik dari kemarin. Sedikit-demi sedikit jerawatku mengecil dan hilang. Tinggal bekas-bekas jerawat yg mulai menghitam masih menempel di pipiku. Ibu baru menyadari kalau jerawatku selalu muncul setiap aku menstruasi. Ibu bilang, itu darah kotor yg ada dalam tubuhku. Berarti setiap bulan aku akan mendapatkan jerawat baru ?? Aku tidak mau bu !
Ibu tersenyum, "masih ada cara sayang"
Aku mengikuti saran ibu. Ibu mengajarkan aku hidup sehat. Aku lebih sering berolahraga setiap pagi. Aku memakan makanan 4sehat 5sempurna setiap hari. Dan ibu menyarankan agar aku membersihkan wajahku setiap hari. Ibu Benar. Aku merasa tubuhku sehat. Dan jerawat sudah dapat terkendali. Yg tadinya tumbuh 1, lalu menjadi 2 dan 3, sekarang hanya tinggal 1 yg tumbuh setiap bulannya. Aku rasa tak masalah jika hanya satu. Itu wajar. Seseorang yg sudah mengalami masa pubertas akan mendapatkan jerawatnya.
Tapi lama-lama, aku mulai risih dg jerawat yg tinggal 1 ini. Aku memencetnya, hingga aku dapatkan bekas hitam di pipiku. Aku bertanya pada ibu, bagaimana bisa aku mendapatkan bekas hitam ini. Dan ibu melarangku untuk memencet jerawatku. Karena itu akan menyebar di seluruh wajahku. Aku tak mau itu terjadi. Lalu aku menurut. Tapi tanganku tak bisa di kendalikan jika ada satu jerawat yg tumbuh di wajahku. Aku ingin ia cepat hilang dari wajahku. Benar ia hilang, tapi bekas hitam yg tinggal. Semakin lama, bekas hitam memnuhi pipiku. Ibu membawaku ke dokter kulit. Dokter menyarankan agar wajahku tak berinteraksi langsung dg sinar matahari. Dan dokter memberiku krim dan beberapa bungkus pil pahit yg tak ku suka. Ibu membantuku meminum obat dari dokter. Setelah obatnya habis, wajahku tak kunjung pulih. Semakin buruk. Ibu membawaku ke dokter yg sama. Ibu komplain pada dokter. Tapi wajah ibu terlihat tidak sedang marah, seperti konsumen yg sedang komplain pada produsen. Wajah ibu tetap tenang dan santun. Hebat. Ibuku pandai menyembunyikan marahnya.
Setelah berbicara cukup lama dg dokter itu. Ibu memutuskan untuk pulang dan tidak meneruskan pengobatan. Ibu terus mencari info tentang cara pengobatan jerawat dan menghilangkan bekas hitam di wajah. Lalu ibu menemukan artikel yg membahas tentang jerawat dan bekasnya di majalah kesehatan milik ibu. Ada sebuah produk, kali ini bukan krim atau pengobatan tradisional seperti yg ibu lakukan dulu. Ini pengobatan herbal. Nampaknya ibu tertarik. Seketika ibu menelpon coustemer care yg tertulis di kaki halaman. Lama berbicara. Sepertinya ibu sedang membuat janji untuk bertemu. Esoknya, sepulang sekolah ibu mengajakku ketempat praktek pengobatan herbal itu.
Disana kami bertemu Ibu Herlina. Ia pemilik dan penerus pengobatan herbal ini. Ibu ini sama cantik seperti Ibuku. Sama-sama mengenakan jilbab. Sepertinya usianya lebih tua daripada Ibuku. Aku melihatnya dari wajahnya, yg sudah tampak garis-garis halus di sekitar mata dan dahinya.
Aku menjalani pengobatan disana selama beberapa minggu. Dan Ibu benar lagi. Bekas hitam itu sedikit-demi sedikit mulai hilang. Dan wajahku kembali bersinar. Hingga sekarang aku masih menggunakan satu produk dari klinik pengobatan itu. Ibu menghadiahkan itu untukku sebagai tanda telah kembalinya kulit mulusku. Ibu memberiku sapu tangan berwarna merah jambu. Sapu tangan itu bukan sembarang sapu tangan. Sapu tangan itu mengandung bahan herbal dan jelas aman dan ramah lingkungan. Aku suka membersihkan wajahku dg sapu tangan pemberian ibu itu. Kata ibu walau sudah sembuh, harus tetap di jaga. Agar jerawat tak mampir lagi ke wajahku.
Aku senang mendengarnya. Ibu bersusah payah menyembuhkan jerawatku. Ibu tak peduli berapa banyak uang yg harus Ia keluarkan untuk mengembalikan kulit mulusku. Tapi ibu tak pernah membahayakan kulitku. Pengobatan yg ibu berikan dan yg ibu sarankan adalah aman. Herbal itu dari alam. Betapa baiknya Tuhan kita. Menyediakan alam yg sangat baik dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia.
Itu salah satu bukti aku masih sangat manja dan bergantung pada ibu. Dan cerita itu menunjukkan betapa besar cinta seorang Ibu pada anak gadisnya. Ibu selalu menginginkan yg terbaik untukku. Ibu membiarkan tubuhnya menggigil kedinginan karena membiarkan gadis kecilnya menggunakan dua selimut, agar ia tak kedinginginan.
Ibu rela membolak-balik setiap majalah kesehatan, ibu rela menghadap komputer berjam-jam, ibu rela menelpon setiap klinik kesehatan, hanya untuk mencari informasi dimana aku bisa mendapatkan pengobatan yg terbaik untuk wajahku. Ibu tak pernah memberikan tagihan padaku. Ibu sangat baik. Aku merasa aman bila ada ibu. Dan aku percaya bahwa IBU SELALU BENAR.
Ibuku terkasih - Ramiatik :*
Langganan:
Komentar (Atom)

